Dia Ikhlas dan Hati sayapun Sakit

18 03 2008

Dia Ikhlas dan Hati Sayapun Sakit

“Luruskanlah muka dirimu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya” (QS. Al-A’raaf : 29)


Pernah tidak kita berbuat sesuatu tapi ada ganjalan dalam hati kita, atau mengalami ini nih, orang lain suatu ketika kita suruh dengan tidak sok memerintah tentunya loh… kemudian dia tuh melaksanakan apa yang kita mintai bantuannya misalnya menyapu lantai depan karena kita udah menyapu yang belakang coz mau nyapu depan ko ga sempet keburu telat ke kantor jadi ya tadi terus minta tolong temen kamu yang kebetulan lagi sempet n santai. Kerjanya tuh kayak tidak ikhlas glutak glutuk sana sini tang teng kaya orang lagi sebel gitu, otomatis kita kan ga enak atau parahnya sakit hati. terus kita basa basi “ah ga ikhlas nih…” terus temen kita ngejawabnya “Ikhlas itu ada dalam hati” waduh kalo udah ngomong kaya gitu terus gimana….ha! gimana ini ha…!!!! (eh sori kok jadi ikutan mbentak pembaca yaaa he he he….).

Ikhlas, sebuah kata yang indah, terdiri dari enam huruf Ia berarti membersihkan hati dari maksud-maksud pribadi, dari motif individu seperti ingin dipuji, ingin orang merasa segan pada kita. Ikhlas juga bisa diartikan ketulusan hati bahwa Allah adalah satu-satunya tujuan kita, dalam bertindak dan bertutur kata selalu mengedepankan Allah, loh berarti kalo kita berucap harus didahului kata Allah? Seperti “Allah, masa kamu mau pergi sih Don?!” kaya gitu sih wajar lha coba kalau kalimatnya seperti “Allah, kamulah orang yang terbengis yang aku lihat” padahal kata-kata itu sebenarnya untuk temannya yang memang jahat, lah kan jadi malah berdosa, gimana sih? Ya ga gitu kale…. Maksudnya kita selalu mengedepankan Allah dalam segala ucapan dan tindakan kita, ketika kita ingin berbicara yang kotor hati kita lantas memberi kode “ingat Allah” ketika kita mau berbuat yang tercela hati kita memberi respon “Allah is any where” dengan begitu kita akan selalu dikontrol agar tidak jadi melaksanakan maksud yang jelek tadi, gituuuuuuu.

Dalam kasus ini mari kita simak firman Allah dalam surat Al-Zalzalah ayat 7-8 yang artinya :

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrohpun, niscaya dia akan melihat balasannya dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrohpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula”.

Dalam surat itu Allah dengan tegas mengingatkan pada kita untuk selalu mengedepankan diri-Nya, iya mengedepankan Allah sehingga kalo-kalo sampe ada niat kita jelek walo setitik seperti benda yang bahkan sulit untuk diukur massanya Allah akan tetap memperhitungkannya, tapi walaupun begitu Allah tidak serta merta hanya mengancam Dia juga memberikan janji indah yang pasti akan dipenuhi-Nya yakni akan dibalas-Nya setiap perbuatan baik seberat benda yang sangaaaaaat ringan timbangannya atau bahkan sulit diketahui ukuran timbangannya, itulah Allah tuhan kita yang begitu bijaksana dan maha bijaksana. Kita tahu Allah juga tidak akan menyia-nyiakan niat baik kita meski belum sempat terlaksana karena satu dan lain hal, Ia juga akan memaafkan niat buruk kita yang sempat terselip dalam lubuk hati dan belum sempat atau tidak jadi kita laksanakan, Subhanallah wallahu akbar!

Ayo kembali kepada masalah ikhlas tadi. Keikhlasan pada dasarnya bisa diusahakan ia tidak saja hadir dengan sendirinya, loh kok gitu? Apa iya?

Orang yang dalam hatinya selalu mendahulukan Allah, ikhlas akan hadir dengan sendirinya sebab dalam hatinya telah dipasang super micro chip oleh Allah, setiap geraknya-gerik hatinya akan dicode oleh-Nya untuk selalu berada dalam lintasan yang telah ditentukan melalui peranta Islam. Agama Islam yang dibawa Nabiyullah sampai pada khotamul ambiya Muhammad al-musthofa selalu mengajarkan hakikat keikhlasan dalam hati pemeluknya. Hati Rosulullah selalu dipenuhi pendar-pendar cahaya sehingga sebutan “MAKSUM” ia raih, sebenarnya rosulullah juga manusia biasa seperti kita, manusia yang punya salah tapi Allah selalu menjaganya, menjaga hatinya karena apa? Karena Rosulullah juga selalu menjaga hatinya.

Pernah dengar lagunya Raihan, apa raihan itu? Itutuh group nasyid dari negeri jiran yang terkenal itu, ah masa ga tau… eh ga pa pa deng kalo ga tau. Intinya dalam sebuah syair yang dinyayikan berbunyi “Nawwir quluubanaa ya Allah kaqolbi rosulika ya Allah” artinya taukan iya betulllllll itu adalah sebuah doa yang semestinya tidak pernah kita lupa dalam aktifitas apapun “Terangi hati kami ya Allah seperti hati rosul-Mu ya Allah” dalam doa itu terkandung maksud ganda yakni kita meminta, memohon pada Allah untuk diterangi hati kita dengan nur, nur yang terang melebihi terangnya matahari yang menyinari bumi ini. Kemudian maksud kedua adalah selain kita meminta supaya diterangkan hatinya kita juga wajib menerangi hati kita sendiri supaya maksud doa yang pertama akan terkabulkan.

Memang sulit, ya nggak? Sebagai manusia yang punya banyak kelemahan pasti akan menemui banyak rintangan disana sini, maksud hati ingin menjaga diri dari sesuatu yang Allah benci, eh diri kita merasa males untuk berjuang menjemput cahaya itu, kalaupun tidak males pasti ada saja sikap kita atau tutur kata yang membuat sakit hati orang lain….hhhmmmmmm. TENANG sekali lagi tenang asalkan kita benar-benar ingin disinari hatinya dan berusaha sekuat tenaga untuk menjemputnya niscaya Allah akan memudahkan jalan bagi kita yang benar-benar mengusahakannya, ingat ini hanya bagi yang benar-benar mau dan terus mengusahakannya.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang mengatakan dirinya ikhlas, ridho karena Allah ta’ala tapi ia merasa nggrundel dihatinya itulah ikhlas semu yang mungkin hanya ingin tidak mau membuat orang lain sakit hati lantaran apa yang kita beri atau apa yang ia minta tidak kita lakukan dengan baik. One more ikhlas tempatnya di hati, TAPI AWAS itu bisa menjadi senjata makan tuan bagi kita naaaaaah ko makin ngawur aja nih pembahasannya? Uups ini bukan ngawur coba baca lagi kasus cerita pada permulaan tulisan ini, ok saya ulang biar tidak perlu repot-repot membaca halaman yang sudah lewat.

Ketika hati kita memang ikhlas dalam mengerjakan sesuatu untuk orang lain misalnya, kemudian dalam tindakan kita banyak grusa-grusunya n semprawut maka hal ini akan mengundang kesensitifan respon hati orang lain tadi, sekali lagi memang kita ikhlas menjalankannya tapi orang tersebut apa akan menilai keikhlasan kita lewat hati, nonsen ga bisa sebab yang tahu hati kita hanya kita dan Allah azza wajalla tentunya. Orang hanya akan melihat dan merasakan keikhlasan kita dari apa yang tercermin dari pola tutur kata dan tingkah laku kita, iya kalo orangnya bisa menerima mungkin hatinya yang akan sakit atau minimal tidak enak pada kita nah kalo orangnya bengis kaya rampok waaaaa apa yang akan terjadi pada diri kita ah….bisa kita bayangkan sendiri,  soooooooooo makannya hati-hati dalam menjaga sikap dan tutur kata kita, karena walaupun hati kita ikhlas kalo tidak menjaga sikap dan tutur kata tadi maka sinyal negatiflah yang akan terpancar sehingga “Kita ikhlas dan Diapun Sakit Hati” emmm biar sama seperti judul tulisan ini maka saya balik kasus diatas sehingga menjadi “Dia Ikhlas dan Hati Sayapun Sakit” he he he. Ups sorry.

Lanjut ya…! Allah berfirman seperti dalam judul yaitu surat Al-A’raaf ayat 29

“Luruskanlah muka dirimu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya”.

Jadi, dalam sholat atau ibadah apapun, maupun aktifitas apapun selama itu baik, dan memang harus yang baik-baik loh kita harus meluruskan diri ini, raga ini dan yang pasti HATI ini, jangan sampai antara raga dan hati berlawanan, hatinya berniat baik tapi raganya mendustai niatan itu, berlawanan yang baik adalah ketika hati kita jelek tapi raga ini menolak dan yang paling baik adalah kesinergisan antara hati dan diri dalam keridhoan Allah SWT.

Ingat jangan sampai raga kita menghadap Allah tapi hati berpaling, itulah kita yang pantas disebut orang MABUK.


Actions

Information

One response

11 05 2009
aris

saya setuju dengan anda kita ikat persaudaraan dengan ilmu

Leave a comment