Hidup manusia pada dasarnya memang saling membutuhkan, ketika saudaranya begitu sulit untuk mewujudkan apa yang ia usahakan maka kembalinya tidak lain adalah meminta bantuan kepada orang-orang disekitarnya. Hal itu sangatlah wajar mengingat manusia adalah mahluk lemah tanpa arti sebuah ikatan, ikatan yang mengeruk begitu banyak informasi bagaimana standar kebutuhan tiap anggotanya mulai dari hal terkecil yang sebenarnya mampu untuk dipenuhi oleh pribadi maupun kebutuhan besar yang sulit untuk diangkat dengan dua tangan.
Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah bersosial, kecuali bagi mereka yang benar-benar anti sosial. Sudah bukan jamannya lagi menghafal definisi sosial secara tekstual apalah gunanya berjubel pengetahuan
tentang ilmu kehidupan bermasyarakat kalau hanya sebatas pada lisan dan pikiran, lisan boleh saja fasih melontarkan argumen-argumen tajam kehadapan publik, pikiran boleh saja dituangkan kedalam lembar kehidupan tapi musti diingat hanya satu model yang akan diterima dalam hubungan secara menyeluruh ketatanan masyarakat itu sendiri.
Adalah Hewan besosial bagi kita yang senantiasa bahu-membahu dalam pemikiran dan sikap dogmatis. Secara fisik kita memang manusia, memakai baju, makan dan minum serta berkomunikasi dengan bahasa yang begitu plural, tapi dapatkah kita melihat begitu miripnya(sama) kita dengan hewan, mereka berkumpul mencari makan, mereka bisa menolong ketika salah satu dari anggota mendapat serangan dari luar dan berbagai kesamaan lain yang sulit disebutkan.
Kenapa bisa disebut hewan bersosial? Jawabnya tidak lain adalah kelebihan yang deberikan Allah SWT berupa akal dan hati tidak kita pergunakan layaknya manusia seutuhnya. Read the rest of this entry »










